Uncategorized

Tangga Cahaya

Sebuah cacatan singkat perjalanku dalam belajar mencari jalan pulang.

Tangga adalah sebuah simbol pencapaian diri. Sudah berada di anak tangga keberapa kita sekarang ?
langkah pertama yang saya lakukan dalam usaha menapaki anak tangga pertama untuk mencari jalan pulang, langkah pertama ini yang nanti akan mengawali ribuan langkah selanjutnya dalam menapaki tangga tidak berujung.

Langkah pertama ini saya lakukan bersama lima saudara-saudara karib dan satu empu dengan arah dan tujuan awal yang sama. Anak tangga pertama yang saya tapaki sekarang itu adalah avatar project, kegiatan rutin organisasi khatulistiwamuda untuk para anggotanya dengan tujuan menjadikan kader yang berguna bagi nusa, bangsa, dan alam semesta.

Tujuan awal kegiatan ini adalah menyambangi saudara kami yang beragama hindu yang berada di Pura Parahyangan, Ciomas, Bogor. Agar kami belajar bertoleransi dengan sesama umat beragama, setelah sampai saya cukup tercengang pura ini begitu bersih, wangi dan damai.

Untuk saya yang pertama kali datang dan masuk kedalam pura ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Wangi khas dupa yang menyebar diseluruh pura adalah pengalaman baru saya. Pura yang begitu damai kami manfaatkan sebaik mungkin untuk meditasi, dan mengenal tatakrama yang berada di pura.

Walaupun kami memasuki pura namun kami harus tetap memegang teguh agama yang kami anut, dalam agama kami mengucapkan salam itu adalah penting jadi kami diajarkan untuk mengucapkan salam kepada seluruh penghuni pura yaitu “Assalamualaikum ya ahlal pura parahyangan”.

Tepat setelah gerbang pura ada patung besar shri ganesa yang menyambut kami, patung dewa berkepala gajah dengan empat tangan dan gading sebelah yang patah itu membuatku penasaran kenapa dia berada tepat setelah pintu gerbang, lalu kenapa harus patung dewa ganesa padahal banyak dewa yang lain.

Bagai tingkatan suci di pura ini pun ada tingkatan-tingkatan tersebut. Tingkat pertama adalah tempat untuk meletakan hal-hal dunia kecuali pakaian yang dikenakan, di tingkat kedua adalah tempat patung ganesa dan pintu gapura besar tempat awal memasuki kawasan pura. Tempat ketiga adalah tempat sembahyang ditempat ini umat hindu bersembahyang walaupun di tingkat kedua juga bisa namun tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk bersembahyang karena tempat ini tempat yang paling dekat dengan tingkat keempat, yang terakhir adalah tingkat keempat yaitu tempat yang sakral yang hanya boleh dimasuki oleh pak mangku saja, bahkan umat hindu pun dilarang naik ke tingkat keempat.

Kami berenam pun memutuskan untuk bermeditasi ditingkat ketiga tempat yang paling tinggi yang bisa dimasuki, namun tetap ada perbedaan antara kami dengan mereka yang sedang beribadah, kalau mereka beribadah menghadap ke selatan tempat tingkat tertinggi berada, kalau kami menghadap ke barat tempat ka’bah berada.

Mungkin sekitar dua jam lebih kami bermeditasi, dan meditasi pun kita akhiri sekitar pukul empat dini hari. Beberapa keanehan terjadi ketika kami bermeditasi salah satunya adalah keanehan alam. Kami yang bermeditasi dialam terbuka seharusnya merasakan dingin yang menusuk-nusuk, apalagi kalau dilihat dari letak pura yang berada dibawah kaki gunung salak namun yang terjadi malah sebaliknya kami merasa hangat selama bermeditasi disana.

Karena matahari pun mulai siap bertugas itu pertanda kami harus segera berpindah tempat, namun sebelum berpindah tempat kami sempatkan untuk berfoto terlebih dahulu, dan ini hasil fotonya :

Semua telah rapih dan siap untuk berpindah tempat namun kami harus memperoleh informasi lebih banyak tentang pura ini jadi kami sempatkan untuk bertanya kepada umat hindu yang berprofesi sebagai tukang foto di pura, tidak banyak yang kami dapatkan dari tukang foto tersebut sebelum akhirnya ada umat hindu setengah baya yang kelelahan berjalan dari tempat parkir, jadi dia sempatkan untuk duduk sejenak hanya untuk menghela nafas.

Orang tersebut itu lah yang memberi kami banyak informasi karena dia berasal dari warna/kasta brahmana yang dianggap sebagai warna tertinggi dalam agama hindu, dari orang tersebut kami mengetahui tangga tingkatan suci dalam hindu yaitu umat, pecalang, pemangku, dan guru pemangku. Dan dalam hindu ada catur warna yang dianalogikan sebagai tubuh. Dibagian kepala adalah brahmana yang biasa keturunan dari brahmana adalah seorang pemikir atau philosof, lalu dibagian pundak adalah kesatria yang mana biasanya keturunan kesatria adalah sebagai penegak hukum atau penjaga, lalu diperut ada wesya yang selalu mengurusi masalah ekonomi dan lain-lain, yang terakhir adalah sudra dibagian kaki yang bertugas sebagai penopang yang atas supaya tidak goyah.

Setelah sekian menit mengobrol, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju situs megalitikum cibalay, di tenjolaya. Ini adalah situs yang menjelaskan siapa sebenarnya leluhur kita dan seberapa hebat dulu bangsa ini. Situs ini umurnya hampir sama dengan situs yang ada digunung padang. Ketika sampai kami langsung disambut oleh kang deni penjaga situs tersebut.

Lagi-lagi tanda itu datang, ia datang dan pergi begitu saja bagaikan hembusan angin. Ketika kami tepat sampai situs dan melihat bagaimana keadaannya, tiba-tiba tanda itu datang tanpa diminta. Dengan melihat situs yang bertingkat-tingkat aku menyadari ini pasti memiliki maksud, tidak mungkin ia dibangun begitu saja tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

“Tuhan bersama orang-orang yang lapar”, itu kami buktikan ketika kami berada di tenjolaya, kami yang semuanya pria ini tidak terlalu pandai dalam memasak, hasilnya kami memasak nasi seperti untuk tiga orang dan telur yang setengah matang, namun karena lapar semuanya jadi habis dan berkah, lalu tuhan mengirim hambanya untuk membantu kami dalam urusan perut, jadi untuk masalah perut kami aman dan sentosa.

Handphone yang kami kumpulkan kepada empu mengajarkan kami untuk tidak terhanyut dalam gadget yang semakin membuat masjarakat seperti robot. Selain handphone yang dikumpulkan kami juga belajar berterima kasih kepada bulan dan bintang yang tiada lelah menghiasi setiap malam dengan cara tidak memakai listrik

Selepas adzan magrib kami mengaji sambil menunggu dua sahabat kami yang menyusul dan diskusi berbagai macam hal, hingga waktu menunjukan dua per tiga malam kami masuk ke kawasan situs untuk berdiskusi dengan leluhur dengan cara meditasi, kami meditasi hingga salah satu dari kami menemui kematiannya sendiri. Ia menangis sesegukan bagaikan bayi yang ditinggal sang ibu. Akhrinya empu pun menghentikan meditasi kami dan kami diminta untuk saling maaf memaafkan.

Setelah saling meminta maaf kami pun berdiskusi apa yang kami dapatkan setelah meditasi karena setiap anak pasti mendapatkan hal yang berbeda dengan yang lain. Empu pun menjelaskan apa maksudnya dari apa yang kita dapatkan satu per satu, karena semua yang kita dapatkan itu adalah simbol bukan isinya secara harfiah

Sebelum matahari muncul ditimur kami sempatkan waktu untuk sembahyang dan menangisi dosa-dosa yang telah kami buat selama ini, hingga membuat hati dan akal ini gelap dan cahaya tuhan tidak sampai kepada kami. Walaupun begitu kami tetap berasa beruntung bisa menangisi dosa-dosa dan ada yang menuntun kami dalam memaknai hidup, karena milyaran manusia diluar sana banyak yang salah dalam memaknai hidup, bahkan ada yang menapakinya tanpa makna.

Saat sinar matahari menyinsing kami sudah berada di situs jami picing, situs yang berdekatan dengan tenjolaya hanya sekitar seratus meter jaraknya. Kami melakukan senam matahari, pukulan terima kasih dan pelatihan fisik lainnya untuk membantu kami belajar, karena dalam belajar kami membutuhkan tubuh yang sehat. Seperti kata pepatah “permensana kemenporapundisano”

Mungkin ada yang bertanya apakah saat meditasi tidak ada godaannya dari mahluk halus ?

Setiap godaan itu pasti mulai dari yang halus-halus seperti yang ada di mall sampai yang colek-colek seperti kalau kita lewat jalan mangga besar saat malam hari. Namun itu semua dapat kami atasi setelah mendapatkan jimat dari empu, yaitu ilmu tauhid. Karena “Setingi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid.

Wasalamualaikum…

Advertisements
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Hujan mengubah rencanaku

“gembel banget Cuma gara-gara hujan semuanya jadi berantakan” kataku sambil mengeluh.

Seharusnya sore ini aku ada wawancara di cipaku 5 kebayoran baru, Jakarta. Untuk menjadi pengurus Teater Enjuku. Siang tadi sekitar pukul 2 siang aku sudah bersiap untuk berangkat ke Jakarta communication club untuk wawancara sebagai calon pengurus, selesai mandi langsung solat. Dengan rasa khawatir aku melakukan solat dzuhur, karena suara petir berbunyi. Dalam keadaan membaca surat pendek aku sambil berkhayal semoga tidak hujan, entahlah solatku diterima atau nggak. Karena tidak ada yang tau apakah solat kita diterima atau tidak kecuali  Allah. Setelah solat selesai aku berdoa semoga tidak hujan, namun belum sempat diucapkan airnya keburu turun.

Aku masih percaya hujannya akan berenti, dan aku berniat akan menerobosnya dengan jubah sakti yang anti hujan. Bergegaslah aku berubah yang tadinya memakai kaos dan celana jeans berganti dengan jubah sakti yang anti hujan tadi lalu aku pamit dengan ibuku.

“Pelan-pelan nak”, sebuah nasihat daari ibuku untuk mengiringi anaknya yang akan menerobos hujan. Lalu motor aku nyalakan, baru tarikan gas yang pertama cahaya kilat menyambar disertai dengan suara petir yang menggelegar. Seketika itu juga runtuh semua harapanku, semua masa depanku.

Mungkin menurut kalian ini biasa saja, tapi ini tidak biasa. Kenapa tidak biasa karena seandainya aku masuk jadi pengurus aku akan mendapatkan keuntungan yang banyak dan sangat berguna sekali, yang pertama adalah ide akan cepat direalisasikan, lalu yang kedua mendapat sertifikat khusus, yang ketiga adalah berkesempatan berorgan nisasi. Lalu yg kerennya adalah mendapatkan kursus bahasa jepang GRATIS di jcc (Jakarta communication club) yang yang super duper ultimate awesome adalah diprioritaskan sebagai wakil enjuku untuk berinteraksi dengan orang-orang dan acara-acara penting. Yang terakhir itu adalah sebuah keuntungan yang sangat besar, karena menurut seorang Guru Besar dari gandul yang bernama reno azwir “sebuah bla bla bla bla bla akan kembali kepada kita”. Jadi sebuah relasi atau jaringan itu sangat penting.

Jadi kenapa itu adalah keuntungan yang paling besar dan bisa mengubah nasibku karena siapa tau aja salah satu atau salah banyak (dapet merah dong kalo salah banyak) dari semua orang yang aku temui akan mempersilahkan aku untuk berdiri dibahunya. Karena menurut bang rreno lalu turun ke aku “seorang yang akan menjadi besar itu berdiri dibahu para raksasa”.  Beridiri disini bukan arti secara harfiah tapi adalah sebuah khiasan. Kalau kalian kurang paham aku kasih analogi, contoh soimah dan olga siapa orang yg tidak mengenal mereka ? kenapa mereka bisa terkenal ? karena mereka berdiri dibawah bahu sang raksasa. Kalau soimah berdiri dibahu Butet Kertaradjasa dan olga berdiri dibahu aditya gumay. Atau aku kasih contoh jokowi yang sekarang sedang buming, bukannya jokowi menurut atau mengikuti saja perintah dari seorang megawati, tapi sekarang dia sedang berdiri dibahu  seorang megawati. Karena dia sadar untuk menjadi orang besar salah satu syaratna adalah berdiri dibahu para raksasa

Namun sampai tulisan ini di posting hujan masih saja rintik-rintik diluar sana yang seperti meledek kearahku. Tapi ada sebuah harapan yang besar bahwa kondisiku akan dipertimbangkan oleh pengurus, akan mendapatkan keringanan atau tidak. Namun lagi-lagi sampai tulisannya ini diketik keputusannya masih belum keluar atau masih dipertimbangkan.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

TANGGA CAHAYA

Sebuah cacatan singkat perjalanku dalam belajar mencari jalan pulang.

Bagiku, tangga bisa jadi sebuah simbol pencapaian diri. Sudah berada di anak tangga ke berapa aku sekarang?

Langkah pertama yang kulakukan dalam usaha menapaki anak tangga pertama untuk mencari jalan pulang, akan mengawali ribuan langkah selanjutnya dalam menapaki tangga tidak berujung.

Langkah ini kujejakkan bersama lima saudara karib dan satu Mpu dengan arah dan tujuan awal yang sama. Anak tangga pertama yang kutapaki sekarang itu adalah Avatar ProjectSebuah cacatan singkat perjalanku dalam belajar mencari jalan pulang.

Bagiku, tangga bisa jadi sebuah simbol pencapaian diri. Sudah berada di anak tangga ke berapa aku sekarang?

Langkah pertama yang kulakukan 17 april 2015 dalam usaha menapaki anak tangga pertama untuk mencari jalan pulang, akan mengawali ribuan langkah selanjutnya dalam menapaki tangga tidak berujung.

Langkah ini kujejakkan bersama lima saudara karib dan satu Mpu dengan arah dan tujuan awal yang sama. Anak tangga pertama yang kutapaki sekarang itu adalah Avatar Project, kegiatan rutin organisasi Khatulistiwamuda bagi para anggotanya dengan tujuan mendidik agar berguna bagi nusa, bangsa, dan alam semesta.

Tujuan awal kegiatan ini adalah menyambangi saudara kami yang beragama Hindu yang berada di Pura Parahyangan, Ciomas, Bogor. Agar kami belajar menenggang rasa dengan sesama umat beragama.

Sebelum memasuki pura, kami menghaturkan salam kepada seluruh penghuni pura, “Assalamu’alaikum ya ahlal Pura Parahyangan”.

Ketika kami masuk ke dalam, aku tercengang melihat penampakan pura yang begitu bersih, wangi, dan damai.  Masuk ke dalam pura adalah pengalaman pertama kali yang sangat menyenangkan. Wangi khas dupa yang menyebar diseluruh pura, juga pengalaman baru bagiku. Pura yang begitu damai, kami manfaatkan sebaik mungkin untuk meditasi, setelah sebelumnya mengenal tatakrama yang ada di pura.

Tepat setelah gerbang pura, berdiri tegak sebuah patung besar Shri Ganesa yang menyambut kami. Patung dewa itu berkepala gajah dengan empat tangan dan gading sebelah yang patah. Sepintas aku jadi penasaran kenapa patung itu bisa berada tepat setelah pintu gerbang. Lalu kenapa harus patung dewa Ganesha padahal banyak dewa yang lain?

Struktur di pura ini menggunakan beberapa tingkatan. Tingkat pertama, untuk meletakan hal-hal yang bersifat keduniawian, kecuali pakaian yang dikenakan. Pada tingkat kedua, tempat patung Ganesha tadi dan pintu gapura besar. Gerbang awal memasuki kawasan pura. Tingkat ketiga, tempat bersembah. Di sini umat Hindu bersembahyang—walaupun di tingkat kedua juga bisa, namun tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk bersembahyang karena paling dekat dengan tingkat keempat. Sedang tingkat keempat, yaitu tempat yang sakral yang hanya boleh dimasuki oleh Pamangku saja, bahkan umat Hindu yang jadi jamaah di pura di sini pun dilarang naik ke tingkat ini.

Kami berenam pun memutuskan bermeditasi di tingkat ketiga, tempat yang paling tinggi yang bisa dimasuki tamu seperti kami. Namun tetap ada perbedaan antara kami dengan mereka yang sedang beribadah. Kalau mereka beribadah menghadap ke selatan tempat tingkat tertinggi berada, Sementara kami menghadap ke barat, tempat Ka’bah berada.

Saat bermeditassi, ada beberapa keanehan terjadi, salah satunya adalah keanehan alam. Kami yang bermeditasi di alam terbuka dan langsung beratapkan langit, seharusnya merasakan dingin yang menusuk-nusuk. Apalagi kalau dilihat dari letak pura yang berada di bawah kaki Gunung Salak. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tubuh kami malah terasa hangat.

Setelah sekitar dua jam lebih bermeditasi, kami pun turun ke pelataran sekitar pukul empat dini hari.

Karena matahari mulai siap bertugas, kami pun harus segera berpindah tempat. Namun sebelum bergegas menuju lokasi berikutnya, kami menyempatkan untuk berfoto terlebih dahulu, dan ini hasil fotonya:

Masih ada satu lagi yang belum kami lakukan, yaitu menggali informasi lebih banyak tentang pura. Kami pun menyempatkan diri bertanya pada salah seorang umat Hindu yang bertugas sebagai pecalang di pintu masuk—sekaligus berprofesi sebagai juru foto di pura. Sayang, tidak banyak yang kami dapatkan dari pecalang tersebut. Beruntung beberapa saat kemudian, datang jamaah lain setengah baya yang kelelahan karena harus berjalan menanjak dari tempat parkir. Jadi sebelum masuk ke pura, ia menyempatkan diri duduk sejenak menghela nafas bersama istrinya.

Orang itulah yang memberi kami banyak informasi. Ia berasal dari warna/kasta Brahmana yang dianggap sebagai warna tertinggi dalam agama Hindu. Dari orang tersebut kami mengetahui tangga tingkatan suci dalam Hindu, yaitu umat, pecalang, pamangku, dan guru pamangku (sulinggih).

Selain itu, di dalam Hindu juga ada catur warna yang dianalogikan sebagai tubuh. Dibagian kepala adalah brahmana. Biasanya menjadi pemikir atau perenung (filosof). Lalu dibagian pundak adalah kesatria. Biasanya menjadi penegak hukum atau penjaga. Kemudian di perut ada wesya, yang selalu mengurusi masalah ekonomi dan lain-lain. Bagian terakhir adalah sudra dibagian kaki, yang bertugas sebagai penopang yang atas supaya tidak goyah.

Setelah sekian menit berbincang, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju situs Megalitik Cibalay, Tenjolaya. Ini adalah situs yang menjelaskan siapa sebenarnya leluhur kita dan seberapa hebat dulu bangsa Nusantara. Situs ini umurnya hampir sama dengan situs yang ada di Gunung Padang. Sekitar 3000-25.000 tahun. Ketika tiba di lokasi, kami langsung disambut Kang Deni, penjaga situs tersebut.

Ketika kami tepat sampai situs dan melihat bagaimana keadaannya, tiba-tiba ada tanda yang  datang tanpa diminta. Melihat situs yang bertingkat-tingkat (berundak), aku menyadari ini pasti memiliki maksud, tidak mungkin ia dibangun begitu saja tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

Tanda yang lain adalah, “Tuhan bersama orang-orang yang lapar.” Itu kami buktikan ketika telah berada jenak berada di Tenjolaya. Kami yang semuanya pria ini tidak terlalu pandai memasak. Hasilnya, kami memasak seperti bocah. Takaran nasi yang kurang dan telur yang setengah matang. Namun karena lapar yang melanda, semua yang telah kami masak a la kadarnya itu, ludes, dan semoga berkah. Setelah tragedi menyakitkan ini, istri kang Deni tampil menyelamatkan nasib kami yang terluntalunta. Tuhan telah mengirim perempuan baik hati itu untuk kami. Alhamdulillah, urusan perut kami tunai dengan mudah.

Ada yang terlewat. Selama mengikuti Avatar Project, ponsel kami dipegang oleh Mpu. Agar kami tidak terhanyut dalam buaian sabak (gadget) yang kian membuat masyarakat seperti robot.

Di Tenjolaya, kami juga belajar berterimakasih kepada bulan dan bintang yang tiada lelah menghiasi setiap malam dengan cara tidak memakai listrik.

Selepas adzan Magrib, kami mengaji, dan diskusi berbagai macam hal, sambil menunggu dua sahabat yang sedang menyusul. Hingga waktu menunjukan dua per tiga malam, dalam kondisi kabut yang menyelimuti punggung Gunung Salak yang dingin, kami masuk ke kawasan situs guna berdiskusi dengan leluhur. Lagilagi  dengan bermeditasi. Kami duduk meditasi hingga salah satu sahabat menemui “kematiannya” sendiri. Ia menangis sesunggukan bagaikan bayi yang ditinggal sang ibu. Akhirnya Mpu pun menghentikan meditasi dan kami diminta saling maaf memaafkan. Persis seperti hari Lebaran.

Setelah saling meminta maaf, kami pun berdiskusi apa yang kami dapatkan saat bermeditasi. Karena setiap kami pasti mendapatkan hal berbeda dengan yang lain. Mpu pun menjelaskan apa maksudnya dari apa yang kami dapatkan satu per satu, karena semua yang kami dapatkan itu adalah simbol, bukan isi yang sesungguhnya.

Sebelum matahari muncul di ufuk timur, kami sempatkan waktu untuk shalat  dan menangisi dosa-dosa yang telah kami buat selama ini, hingga membuat hati dan akal ini gelap dan cahaya tuhan tidak sampai kepada kami. Walaupun begitu kami tetap merasa beruntung bisa menangisi dosa-dosa dan ada yang menuntun dalam memaknai hidup. Karena milyaran manusia di luar sana banyak yang salah dalam memaknai hidup, bahkan ada yang menapakinya tanpa makna.

Saat sinar matahari menyingsing kami sudah bergegas menuju ke Situs Jami’ Piciing. Jarak situs ini dengan Tenjolaya sekitar seratus meter lebih sembilan puluh sembilan. Di sana, kami melakukan senam matahari, pukulan “terimakasih” dan pelatihan fisik lainnya untuk membantu kami belajar. Karena dalam belajar, kami membutuhkan tubuh yang sehat. Seperti kata pepatah zaman Sekolah Dasar yang sulit kuingat, “Permensana kemenporapundisano.”

Mungkin ada yang bertanya apakah saat meditasi tidak ada godaannya dari mahluk halus?

Setiap godaan itu pasti ada, sedari yang halus-halus seperti yang ada di mall sampai yang colek-colek seperti kalau kita lewat Jalan Mangga Besar saat malam hari. Namun itu semua dapat kami atasi setelah mendapatkan jimat dari Mpu yang diwariskan oleh Eyang Cokroaminoto:

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid.”

Wassalamu’alaikum…, kegiatan rutin organisasi Khatulistiwamuda bagi para anggotanya dengan tujuan mendidik agar berguna bagi nusa, bangsa, dan alam semesta.

Tujuan awal kegiatan ini adalah menyambangi saudara kami yang beragama Hindu yang berada di Pura Parahyangan, Ciomas, Bogor. Agar kami belajar menenggang rasa dengan sesama umat beragama.

Sebelum memasuki pura, kami menghaturkan salam kepada seluruh penghuni pura, “Assalamu’alaikum ya ahlal Pura Parahyangan”.

Ketika kami masuk ke dalam, aku tercengang melihat penampakan pura yang begitu bersih, wangi, dan damai.  Masuk ke dalam pura adalah pengalaman pertama kali yang sangat menyenangkan. Wangi khas dupa yang menyebar diseluruh pura, juga pengalaman baru bagiku. Pura yang begitu damai, kami manfaatkan sebaik mungkin untuk meditasi, setelah sebelumnya mengenal tatakrama yang ada di pura.

Tepat setelah gerbang pura, berdiri tegak sebuah patung besar Shri Ganesa yang menyambut kami. Patung dewa itu berkepala gajah dengan empat tangan dan gading sebelah yang patah. Sepintas aku jadi penasaran kenapa patung itu bisa berada tepat setelah pintu gerbang. Lalu kenapa harus patung dewa Ganesha padahal banyak dewa yang lain?

Struktur di pura ini menggunakan beberapa tingkatan. Tingkat pertama, untuk meletakan hal-hal yang bersifat keduniawian, kecuali pakaian yang dikenakan. Pada tingkat kedua, tempat patung Ganesha tadi dan pintu gapura besar. Gerbang awal memasuki kawasan pura. Tingkat ketiga, tempat bersembah. Di sini umat Hindu bersembahyang—walaupun di tingkat kedua juga bisa, namun tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk bersembahyang karena paling dekat dengan tingkat keempat. Sedang tingkat keempat, yaitu tempat yang sakral yang hanya boleh dimasuki oleh Pamangku saja, bahkan umat Hindu yang jadi jamaah di pura di sini pun dilarang naik ke tingkat ini.

Kami berenam pun memutuskan bermeditasi di tingkat ketiga, tempat yang paling tinggi yang bisa dimasuki tamu seperti kami. Namun tetap ada perbedaan antara kami dengan mereka yang sedang beribadah. Kalau mereka beribadah menghadap ke selatan tempat tingkat tertinggi berada, Sementara kami menghadap ke barat, tempat Ka’bah berada.

Saat bermeditassi, ada beberapa keanehan terjadi, salah satunya adalah keanehan alam. Kami yang bermeditasi di alam terbuka dan langsung beratapkan langit, seharusnya merasakan dingin yang menusuk-nusuk. Apalagi kalau dilihat dari letak pura yang berada di bawah kaki Gunung Salak. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tubuh kami malah terasa hangat.

Setelah sekitar dua jam lebih bermeditasi, kami pun turun ke pelataran sekitar pukul empat dini hari.

Karena matahari mulai siap bertugas, kami pun harus segera berpindah tempat. Namun sebelum bergegas menuju lokasi berikutnya, kami menyempatkan untuk berfoto terlebih dahulu, dan ini hasil fotonya:

Masih ada satu lagi yang belum kami lakukan, yaitu menggali informasi lebih banyak tentang pura. Kami pun menyempatkan diri bertanya pada salah seorang umat Hindu yang bertugas sebagai pecalang di pintu masuk—sekaligus berprofesi sebagai juru foto di pura. Sayang, tidak banyak yang kami dapatkan dari pecalang tersebut. Beruntung beberapa saat kemudian, datang jamaah lain setengah baya yang kelelahan karena harus berjalan menanjak dari tempat parkir. Jadi sebelum masuk ke pura, ia menyempatkan diri duduk sejenak menghela nafas bersama istrinya.

Orang itulah yang memberi kami banyak informasi. Ia berasal dari warna/kasta Brahmana yang dianggap sebagai warna tertinggi dalam agama Hindu. Dari orang tersebut kami mengetahui tangga tingkatan suci dalam Hindu, yaitu umat, pecalang, pamangku, dan guru pamangku (sulinggih).

Selain itu, di dalam Hindu juga ada catur warna yang dianalogikan sebagai tubuh. Dibagian kepala adalah brahmana. Biasanya menjadi pemikir atau perenung (filosof). Lalu dibagian pundak adalah kesatria. Biasanya menjadi penegak hukum atau penjaga. Kemudian di perut ada wesya, yang selalu mengurusi masalah ekonomi dan lain-lain. Bagian terakhir adalah sudra dibagian kaki, yang bertugas sebagai penopang yang atas supaya tidak goyah.

Setelah sekian menit berbincang, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju situs Megalitik Cibalay, Tenjolaya. Ini adalah situs yang menjelaskan siapa sebenarnya leluhur kita dan seberapa hebat dulu bangsa Nusantara. Situs ini umurnya hampir sama dengan situs yang ada di Gunung Padang. Sekitar 3000-25.000 tahun. Ketika tiba di lokasi, kami langsung disambut Kang Deni, penjaga situs tersebut.

Ketika kami tepat sampai situs dan melihat bagaimana keadaannya, tiba-tiba ada tanda yang  datang tanpa diminta. Melihat situs yang bertingkat-tingkat (berundak), aku menyadari ini pasti memiliki maksud, tidak mungkin ia dibangun begitu saja tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

Tanda yang lain adalah, “Tuhan bersama orang-orang yang lapar.” Itu kami buktikan ketika telah berada jenak berada di Tenjolaya. Kami yang semuanya pria ini tidak terlalu pandai memasak. Hasilnya, kami memasak seperti bocah. Takaran nasi yang kurang dan telur yang setengah matang. Namun karena lapar yang melanda, semua yang telah kami masak a la kadarnya itu, ludes, dan semoga berkah. Setelah tragedi menyakitkan ini, istri kang Deni tampil menyelamatkan nasib kami yang terluntalunta. Tuhan telah mengirim perempuan baik hati itu untuk kami. Alhamdulillah, urusan perut kami tunai dengan mudah.

Ada yang terlewat. Selama mengikuti Avatar Project, ponsel kami dipegang oleh Mpu. Agar kami tidak terhanyut dalam buaian sabak (gadget) yang kian membuat masyarakat seperti robot.

Di Tenjolaya, kami juga belajar berterimakasih kepada bulan dan bintang yang tiada lelah menghiasi setiap malam dengan cara tidak memakai listrik.

Selepas adzan Magrib, kami mengaji, dan diskusi berbagai macam hal, sambil menunggu dua sahabat yang sedang menyusul. Hingga waktu menunjukan dua per tiga malam, dalam kondisi kabut yang menyelimuti punggung Gunung Salak yang dingin, kami masuk ke kawasan situs guna berdiskusi dengan leluhur. Lagilagi  dengan bermeditasi. Kami duduk meditasi hingga salah satu sahabat menemui “kematiannya” sendiri. Ia menangis sesunggukan bagaikan bayi yang ditinggal sang ibu. Akhirnya Mpu pun menghentikan meditasi dan kami diminta saling maaf memaafkan. Persis seperti hari Lebaran.

Setelah saling meminta maaf, kami pun berdiskusi apa yang kami dapatkan saat bermeditasi. Karena setiap kami pasti mendapatkan hal berbeda dengan yang lain. Mpu pun menjelaskan apa maksudnya dari apa yang kami dapatkan satu per satu, karena semua yang kami dapatkan itu adalah simbol, bukan isi yang sesungguhnya.

Sebelum matahari muncul di ufuk timur, kami sempatkan waktu untuk shalat  dan menangisi dosa-dosa yang telah kami buat selama ini, hingga membuat hati dan akal ini gelap dan cahaya tuhan tidak sampai kepada kami. Walaupun begitu kami tetap merasa beruntung bisa menangisi dosa-dosa dan ada yang menuntun dalam memaknai hidup. Karena milyaran manusia di luar sana banyak yang salah dalam memaknai hidup, bahkan ada yang menapakinya tanpa makna.

Saat sinar matahari menyingsing kami sudah bergegas menuju ke Situs Jami’ Piciing. Jarak situs ini dengan Tenjolaya sekitar seratus meter lebih sembilan puluh sembilan. Di sana, kami melakukan senam matahari, pukulan “terimakasih” dan pelatihan fisik lainnya untuk membantu kami belajar. Karena dalam belajar, kami membutuhkan tubuh yang sehat. Seperti kata pepatah zaman Sekolah Dasar yang sulit kuingat, “Permensana kemenporapundisano.”

Mungkin ada yang bertanya apakah saat meditasi tidak ada godaannya dari mahluk halus?

Setiap godaan itu pasti ada, sedari yang halus-halus seperti yang ada di mall sampai yang colek-colek seperti kalau kita lewat Jalan Mangga Besar saat malam hari. Namun itu semua dapat kami atasi setelah mendapatkan jimat dari Mpu yang diwariskan oleh Eyang Cokroaminoto:

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid.”

Wassalamu’alaikum…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Gunakanlah Rokok Secara Bijak

Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (variasi bergantung kepada negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicincang. Rokok dibakar pada salah satu hujungnya dan dibiarkan membara supaya asapnya dapat disedut melalui mulut pada hujung yang lain

Sejarah rokok terjadi ratusan tahun yang lalu ditanah arab pada zaman kekaisaran persia, kenapa ditanah arab ? karena pada ratusan tahun yang lalu pada zaman keemasan di Baghdad tempat ilmu pengetahuan berkembang besar, dimana orang eropa masih dekil dan jorok-jorok. Tanah Baghdad sudah maju melebihi ekspetasi. Pada zaman itulah asal muasal rokok bermula. Rokok pada zaman itu adalah shisa. Para sufi yang memiliki pola tidur yang sangat sedikit itu menggunakan kopi dan shisha disela-sela diskusi dan merenung mereka. Kopi dan shisha digunakan untuk pemecahan masalah mereka atas rasa ngantuk, sekitar 500 tahun yang lalu, itu mengalami lonjakan popularitas di antara kelas atas dan intelektual dan dengan demikian mengubah desainnya. Hookah atau shisha berkembang dalam ukuran dan kompleksitas dan menjadi mirip dengan desain seperti sekarang ini. Kuningan dan kaca yang ditambahkan ke desain dan sedikit kayu yang digunakan. Lukisan-lukisan yang rumit dan mosaik ditambahkan untuk keindahan dan keanggunan. Hookah atau shisha bermigrasi ke daerah Selatan Arab dari Turki Lebanon dan Syria di mana disebut argile. Kemudian menyebar ke Mesir dan Maroko, dimana ia dikenal sebagai shisha.

Shisha pun sempat menyebar ke pedalaman suku Indian dan mendapatkan penyusutan bentuk. Shisha yang menggunakan kaca, kayu, dan lukisan-lukisan yang rumit berubah menjadi pipa panjang yang diujungnya terdapat lubang besar untuk tempat pembakaran. Dahulu bahan utama yang digunakan bukan seperti sekarang ini, yang digunakan adalah Tombeik. Tombeik adalah tembakau hitam yang tumbuh Iran. Tombeik dibilas dan ditaruh dalam tungku di mana batu bara ditempatkan secara langsung ke tombeik basah, yang memberikan rasa yang kuat. Lalu di suku Indian itu menggunakan tombeik kering.

Di indian kegiatan yang kita sebut merokok ini awalnya dilakukan  pada saat berkumpunya beberapa suku untuk mempererat hubungan antar suku yang berbeda. Namun selain sebagai penguat hubungan antar suku, banyak juga yang menggunakan tembakau atau tombeik sebagai media pengobatan. Dan suku Indian menggunakannya sebagai media ritual terhadap dewa-dewa mereka. Lalu tidak lama dari itu sekitar abad ke-16 Colombus yang mengaku menemukan amerika yang sebetulnya nyasar itu datang. sebagian dari mereka mencoba untuk menghisap tembakau. Dan akhirnya tertarik untuk membawa budaya menghisap tembaku ini ke benua asal mereka, yaitu Benua Eropa. Setelah budaya ini dibawa ke Eropa, ada seorang diplomat Prancis yang tertarik untuk mempopulerkannya ke seluruh Eropa. Dia lah Jean Nicot, yang kemudian namanya digunakan sebagai istilah Nikotin. Kebiasaan merokok pun muncul di kalangan bangsawan Eropa. Namun tidak seperti suku indian, yang menggunakannya untuk upacara ritual, para bangsawan Eropa menggunakannya untuk kesenangan belaka. Kepopulerannya yang semakin meningkat di Eropa membuat John Rolfe tertarik untuk membudidayakan tembakau dengan lebih serius. John Rolfe adalah orang pertama yang berhasil menanam tembakau dalam skala besar, yang kemudian diikuti oleh perdagangan dan pengiriman tembakau dari AS ke Eropa. Secara ilmiah, buku petunjuk bertanam tembakau pertama kali diterbitkan di Inggris pada tahun 1855, padahal waktu zaman Baghdad berjaya tembakau itu sudah ada.

Lalu dari segi bentuk terus-menerus mengalami penyusutan hingga berbentuk seperti sekarang ini yang dari isi dan kandungan yang terdapat pada rokok yang berubah jauh dari zaman shisha. Rokok yang sekarang sudah dimanipulasi sedemikian rupa oleh sekelompok orang (illuminati) untuk melancarkan kepentingannya

Rokok dulu diindonesia kegunaannya masih sama dengan shisha pada untuk menahan ngantuk yang ditemani oleh kopi. Itulah mengapa kopi dan rokok adalah teman sejati yang susah sekali dipisahkan.  Sejarah rokok di Indonesia terjadi di Kudus Menurut kisah yang hidup dikalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok.Dari kegiatan melinting rokok itulah kearifan lokal terjadi. Dimana kita bersosialisasi membicarakan perjuangan bangsa kita, hukum adat istiadat, dan masih banyak lagi sambil melinting rokok.

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkeh. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan “rokok obat” ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi “keretek”, maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan “rokok kretek”. Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon Djamari meninggal pada 1890. Identitas dan asal-usulnya hingga kini masih samar.

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek “Tjap Bal Tiga”. Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.

Menurut beberapa babad legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok klobot (rokok kretek dengan bungkus daun jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya. Dari kegiatan melinting rokok itulah kearifan lokal terjadi. Dimana kita bersosialisasi membicarakan perjuangan bangsa kita, hukum adat istiadat, dan masih banyak lagi sambil melinting rokok.

“Rokok adalah untuk orang-orang gelisah, orang-orang yang kompetitif, orang gusar […] Ketika Anda merokok narghile, Anda punya waktu untuk berpikir. Ini mengajarkan Anda kesabaran dan toleransi, dan memberi Anda penghargaan perusahaan yang baik. Perokok Narghile memiliki pendekatan hidup yang lebih seimbang daripada perokok biasa.” Ismet Ertep

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu didalam benteng yang tinggi lagi kokoh” Allah SWT jadi penyebab kematian bukanlah rokok, memang waktunya seseorang meninggal.

Pesan : Gunakanlah rokok sebagaimana semestinya, karena balik lagi itu semua bukanlah kesalahan rokok tapi karena kitalah yang tidak bijak dalam menggunakannya #MariBijakMerokok

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Etika Penulisan Diinternet

etika

Pada zaman modern ini masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi melalui media internet, selain itu masyarakat juga dapat menulis dan menyebarkan informasi dengan mudah melalui internet. Maka dari itu penggunaan internet sebagai media untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi perlu dilakukan dengan bijak, rasa tanggung jawab dan memiliki etika agar informasi yang tersebar tidak menimbulkan keresahan pada masyrakat itu sendiri.

Tulisan etika menulis di internet ini adalah pendapat pribadi tentang sopan santun menulis di dunia maya. Seperti yang telah ditulis dalam tulisan sebelumnya tentang etika komunikasi di milis, bahwa dunia maya juga mempunyai aturan-aturan dan sopan santun yang harus kita pahami. Sering sekali seseorang dengan seenak hati menulis di blog, mengirimkan pesan melalui email, mengirimkan atau mempublish dokumen elektronis lainnya (gambar, video, tulisan dan bentuk2 lainnya) tanpa memperhatikan aturan dan etikanya.

Banyak cara yang dapat digunakan dalam mengeluarkan pendapat, salah satunya dengan menulis. Saat ini yang banyak digunakan yaitu menulis melalui internet. Tetapi banyak aspek yang belum diketahui seseorang, terutama mengenai etika dalam menulis melalui internet. Etika menulis di internet merupakan pendapat masing-masing orang mengenai tata cara atau sopan santun menulis di dalam dunia maya.

Dunia maya memiliki aturan-aturan dan sopan santun yang harus dipahami setiap orang. Banyak yang kita jumpai seseorang yang menulis tanpa menggunakan aturan atau sopan santun yang semestinya, mengirimkan dengan menggunakan email, mempublikasikan dokumen elektronik seperti gambar, video dan tulisan-tulisan dalam bentuk lain tanpa memperhatikan kode etik yang semestinya.

Sebagai orang yang sering memanfaatkan internet untuk keperluaan sehari-hari sebaiknya kita membaca undang-undang transaksi elektronis yang telah disyahkan pada tahun 2008. Kita dapat langsung membaca peraturan yang mengatur tentang tindakan yang dilarang

Beberapa peraturan didunia maya :

  1. Jangan pernah menyakiti sesorang lewat kata-kata (teks), gambar, atau video. Dalam Facebook jangan berkomentar jorok, sinis, menghina, menyindir, merendahkan martabat di akun teman-teman kita. Jika dilakukan, kalian menjadi bagian dari cyberbullying yang sedang diperangi dinia.
  2. Jangan merayu atau menuliskan kata-kata yang bernuansa pelecehan seksual, berkirim gambar atau video porno. Kalau dilakukan, kamu tergabung dalam golongan “internet predator” yang sedang mencari mangsa. Gambar atau avatarmu yang seksi diganti saja dengan gambar yang netral. Salah-salah kamu sendiri yang nanti menjadi mangsa internet predator yang banyak bergentayangan secara online, karena kamu dirasa “mengundang”.
  3. Jangan meneruskan email temanmu ke pihak lain tanpa izin dari pemiliknya. Ingat kasus Prita Mulyasari.
  4. Jangan mencaci-maki orang, menuduh, memfitnah, menghujat di ranah yang sifatnya public. Wall kamu di Facebook, milist, twitter, blog, dsb, temasuk wilayah public karena orang lain bisa ikut membacanya.
  5. Jangan meninggalkan data pribadi spt: nomor telepon, email, secara sembarangan di forum-forum online. Ini bisa disalahgunakan pihak lain.
  6. Jangan mengutip, menyadur atau menyalin tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Ini namanya plagiat.
  7. Sebelum upload fotomu dan teman-temanmu periksa dulu apakah tidak mengandung konten porno atau seronok. Pikirkan dulu apakah salah satu pihak merasa tersinggung, tidak suka, marah atau sakit hati jika foto-foto itu dimuat ? Pikirkan pula reaksi keluarga mereka. Jangan sampai foto-foto ini disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
  8. Jangan memuat lagu, video, atau foto yang bukan karya kamu. Ini namanya melanggar hak cipta. Konon, ke depannya para label musik akan mencurahkan waktu untuk merazia blog dan situs web yang melanggar hak cipta.

    Sumber : http://adamsardhy.blogspot.com/2011/02/etika-penulisan-di-internet.html
    http://gerry-elektro.blogspot.com/2014/10/etika-penulisan-di-internet.html

Categories: Uncategorized | Leave a comment