TANGGA CAHAYA

Sebuah cacatan singkat perjalanku dalam belajar mencari jalan pulang.

Bagiku, tangga bisa jadi sebuah simbol pencapaian diri. Sudah berada di anak tangga ke berapa aku sekarang?

Langkah pertama yang kulakukan dalam usaha menapaki anak tangga pertama untuk mencari jalan pulang, akan mengawali ribuan langkah selanjutnya dalam menapaki tangga tidak berujung.

Langkah ini kujejakkan bersama lima saudara karib dan satu Mpu dengan arah dan tujuan awal yang sama. Anak tangga pertama yang kutapaki sekarang itu adalah Avatar ProjectSebuah cacatan singkat perjalanku dalam belajar mencari jalan pulang.

Bagiku, tangga bisa jadi sebuah simbol pencapaian diri. Sudah berada di anak tangga ke berapa aku sekarang?

Langkah pertama yang kulakukan 17 april 2015 dalam usaha menapaki anak tangga pertama untuk mencari jalan pulang, akan mengawali ribuan langkah selanjutnya dalam menapaki tangga tidak berujung.

Langkah ini kujejakkan bersama lima saudara karib dan satu Mpu dengan arah dan tujuan awal yang sama. Anak tangga pertama yang kutapaki sekarang itu adalah Avatar Project, kegiatan rutin organisasi Khatulistiwamuda bagi para anggotanya dengan tujuan mendidik agar berguna bagi nusa, bangsa, dan alam semesta.

Tujuan awal kegiatan ini adalah menyambangi saudara kami yang beragama Hindu yang berada di Pura Parahyangan, Ciomas, Bogor. Agar kami belajar menenggang rasa dengan sesama umat beragama.

Sebelum memasuki pura, kami menghaturkan salam kepada seluruh penghuni pura, “Assalamu’alaikum ya ahlal Pura Parahyangan”.

Ketika kami masuk ke dalam, aku tercengang melihat penampakan pura yang begitu bersih, wangi, dan damai.  Masuk ke dalam pura adalah pengalaman pertama kali yang sangat menyenangkan. Wangi khas dupa yang menyebar diseluruh pura, juga pengalaman baru bagiku. Pura yang begitu damai, kami manfaatkan sebaik mungkin untuk meditasi, setelah sebelumnya mengenal tatakrama yang ada di pura.

Tepat setelah gerbang pura, berdiri tegak sebuah patung besar Shri Ganesa yang menyambut kami. Patung dewa itu berkepala gajah dengan empat tangan dan gading sebelah yang patah. Sepintas aku jadi penasaran kenapa patung itu bisa berada tepat setelah pintu gerbang. Lalu kenapa harus patung dewa Ganesha padahal banyak dewa yang lain?

Struktur di pura ini menggunakan beberapa tingkatan. Tingkat pertama, untuk meletakan hal-hal yang bersifat keduniawian, kecuali pakaian yang dikenakan. Pada tingkat kedua, tempat patung Ganesha tadi dan pintu gapura besar. Gerbang awal memasuki kawasan pura. Tingkat ketiga, tempat bersembah. Di sini umat Hindu bersembahyang—walaupun di tingkat kedua juga bisa, namun tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk bersembahyang karena paling dekat dengan tingkat keempat. Sedang tingkat keempat, yaitu tempat yang sakral yang hanya boleh dimasuki oleh Pamangku saja, bahkan umat Hindu yang jadi jamaah di pura di sini pun dilarang naik ke tingkat ini.

Kami berenam pun memutuskan bermeditasi di tingkat ketiga, tempat yang paling tinggi yang bisa dimasuki tamu seperti kami. Namun tetap ada perbedaan antara kami dengan mereka yang sedang beribadah. Kalau mereka beribadah menghadap ke selatan tempat tingkat tertinggi berada, Sementara kami menghadap ke barat, tempat Ka’bah berada.

Saat bermeditassi, ada beberapa keanehan terjadi, salah satunya adalah keanehan alam. Kami yang bermeditasi di alam terbuka dan langsung beratapkan langit, seharusnya merasakan dingin yang menusuk-nusuk. Apalagi kalau dilihat dari letak pura yang berada di bawah kaki Gunung Salak. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tubuh kami malah terasa hangat.

Setelah sekitar dua jam lebih bermeditasi, kami pun turun ke pelataran sekitar pukul empat dini hari.

Karena matahari mulai siap bertugas, kami pun harus segera berpindah tempat. Namun sebelum bergegas menuju lokasi berikutnya, kami menyempatkan untuk berfoto terlebih dahulu, dan ini hasil fotonya:

Masih ada satu lagi yang belum kami lakukan, yaitu menggali informasi lebih banyak tentang pura. Kami pun menyempatkan diri bertanya pada salah seorang umat Hindu yang bertugas sebagai pecalang di pintu masuk—sekaligus berprofesi sebagai juru foto di pura. Sayang, tidak banyak yang kami dapatkan dari pecalang tersebut. Beruntung beberapa saat kemudian, datang jamaah lain setengah baya yang kelelahan karena harus berjalan menanjak dari tempat parkir. Jadi sebelum masuk ke pura, ia menyempatkan diri duduk sejenak menghela nafas bersama istrinya.

Orang itulah yang memberi kami banyak informasi. Ia berasal dari warna/kasta Brahmana yang dianggap sebagai warna tertinggi dalam agama Hindu. Dari orang tersebut kami mengetahui tangga tingkatan suci dalam Hindu, yaitu umat, pecalang, pamangku, dan guru pamangku (sulinggih).

Selain itu, di dalam Hindu juga ada catur warna yang dianalogikan sebagai tubuh. Dibagian kepala adalah brahmana. Biasanya menjadi pemikir atau perenung (filosof). Lalu dibagian pundak adalah kesatria. Biasanya menjadi penegak hukum atau penjaga. Kemudian di perut ada wesya, yang selalu mengurusi masalah ekonomi dan lain-lain. Bagian terakhir adalah sudra dibagian kaki, yang bertugas sebagai penopang yang atas supaya tidak goyah.

Setelah sekian menit berbincang, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju situs Megalitik Cibalay, Tenjolaya. Ini adalah situs yang menjelaskan siapa sebenarnya leluhur kita dan seberapa hebat dulu bangsa Nusantara. Situs ini umurnya hampir sama dengan situs yang ada di Gunung Padang. Sekitar 3000-25.000 tahun. Ketika tiba di lokasi, kami langsung disambut Kang Deni, penjaga situs tersebut.

Ketika kami tepat sampai situs dan melihat bagaimana keadaannya, tiba-tiba ada tanda yang  datang tanpa diminta. Melihat situs yang bertingkat-tingkat (berundak), aku menyadari ini pasti memiliki maksud, tidak mungkin ia dibangun begitu saja tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

Tanda yang lain adalah, “Tuhan bersama orang-orang yang lapar.” Itu kami buktikan ketika telah berada jenak berada di Tenjolaya. Kami yang semuanya pria ini tidak terlalu pandai memasak. Hasilnya, kami memasak seperti bocah. Takaran nasi yang kurang dan telur yang setengah matang. Namun karena lapar yang melanda, semua yang telah kami masak a la kadarnya itu, ludes, dan semoga berkah. Setelah tragedi menyakitkan ini, istri kang Deni tampil menyelamatkan nasib kami yang terluntalunta. Tuhan telah mengirim perempuan baik hati itu untuk kami. Alhamdulillah, urusan perut kami tunai dengan mudah.

Ada yang terlewat. Selama mengikuti Avatar Project, ponsel kami dipegang oleh Mpu. Agar kami tidak terhanyut dalam buaian sabak (gadget) yang kian membuat masyarakat seperti robot.

Di Tenjolaya, kami juga belajar berterimakasih kepada bulan dan bintang yang tiada lelah menghiasi setiap malam dengan cara tidak memakai listrik.

Selepas adzan Magrib, kami mengaji, dan diskusi berbagai macam hal, sambil menunggu dua sahabat yang sedang menyusul. Hingga waktu menunjukan dua per tiga malam, dalam kondisi kabut yang menyelimuti punggung Gunung Salak yang dingin, kami masuk ke kawasan situs guna berdiskusi dengan leluhur. Lagilagi  dengan bermeditasi. Kami duduk meditasi hingga salah satu sahabat menemui “kematiannya” sendiri. Ia menangis sesunggukan bagaikan bayi yang ditinggal sang ibu. Akhirnya Mpu pun menghentikan meditasi dan kami diminta saling maaf memaafkan. Persis seperti hari Lebaran.

Setelah saling meminta maaf, kami pun berdiskusi apa yang kami dapatkan saat bermeditasi. Karena setiap kami pasti mendapatkan hal berbeda dengan yang lain. Mpu pun menjelaskan apa maksudnya dari apa yang kami dapatkan satu per satu, karena semua yang kami dapatkan itu adalah simbol, bukan isi yang sesungguhnya.

Sebelum matahari muncul di ufuk timur, kami sempatkan waktu untuk shalat  dan menangisi dosa-dosa yang telah kami buat selama ini, hingga membuat hati dan akal ini gelap dan cahaya tuhan tidak sampai kepada kami. Walaupun begitu kami tetap merasa beruntung bisa menangisi dosa-dosa dan ada yang menuntun dalam memaknai hidup. Karena milyaran manusia di luar sana banyak yang salah dalam memaknai hidup, bahkan ada yang menapakinya tanpa makna.

Saat sinar matahari menyingsing kami sudah bergegas menuju ke Situs Jami’ Piciing. Jarak situs ini dengan Tenjolaya sekitar seratus meter lebih sembilan puluh sembilan. Di sana, kami melakukan senam matahari, pukulan “terimakasih” dan pelatihan fisik lainnya untuk membantu kami belajar. Karena dalam belajar, kami membutuhkan tubuh yang sehat. Seperti kata pepatah zaman Sekolah Dasar yang sulit kuingat, “Permensana kemenporapundisano.”

Mungkin ada yang bertanya apakah saat meditasi tidak ada godaannya dari mahluk halus?

Setiap godaan itu pasti ada, sedari yang halus-halus seperti yang ada di mall sampai yang colek-colek seperti kalau kita lewat Jalan Mangga Besar saat malam hari. Namun itu semua dapat kami atasi setelah mendapatkan jimat dari Mpu yang diwariskan oleh Eyang Cokroaminoto:

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid.”

Wassalamu’alaikum…, kegiatan rutin organisasi Khatulistiwamuda bagi para anggotanya dengan tujuan mendidik agar berguna bagi nusa, bangsa, dan alam semesta.

Tujuan awal kegiatan ini adalah menyambangi saudara kami yang beragama Hindu yang berada di Pura Parahyangan, Ciomas, Bogor. Agar kami belajar menenggang rasa dengan sesama umat beragama.

Sebelum memasuki pura, kami menghaturkan salam kepada seluruh penghuni pura, “Assalamu’alaikum ya ahlal Pura Parahyangan”.

Ketika kami masuk ke dalam, aku tercengang melihat penampakan pura yang begitu bersih, wangi, dan damai.  Masuk ke dalam pura adalah pengalaman pertama kali yang sangat menyenangkan. Wangi khas dupa yang menyebar diseluruh pura, juga pengalaman baru bagiku. Pura yang begitu damai, kami manfaatkan sebaik mungkin untuk meditasi, setelah sebelumnya mengenal tatakrama yang ada di pura.

Tepat setelah gerbang pura, berdiri tegak sebuah patung besar Shri Ganesa yang menyambut kami. Patung dewa itu berkepala gajah dengan empat tangan dan gading sebelah yang patah. Sepintas aku jadi penasaran kenapa patung itu bisa berada tepat setelah pintu gerbang. Lalu kenapa harus patung dewa Ganesha padahal banyak dewa yang lain?

Struktur di pura ini menggunakan beberapa tingkatan. Tingkat pertama, untuk meletakan hal-hal yang bersifat keduniawian, kecuali pakaian yang dikenakan. Pada tingkat kedua, tempat patung Ganesha tadi dan pintu gapura besar. Gerbang awal memasuki kawasan pura. Tingkat ketiga, tempat bersembah. Di sini umat Hindu bersembahyang—walaupun di tingkat kedua juga bisa, namun tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk bersembahyang karena paling dekat dengan tingkat keempat. Sedang tingkat keempat, yaitu tempat yang sakral yang hanya boleh dimasuki oleh Pamangku saja, bahkan umat Hindu yang jadi jamaah di pura di sini pun dilarang naik ke tingkat ini.

Kami berenam pun memutuskan bermeditasi di tingkat ketiga, tempat yang paling tinggi yang bisa dimasuki tamu seperti kami. Namun tetap ada perbedaan antara kami dengan mereka yang sedang beribadah. Kalau mereka beribadah menghadap ke selatan tempat tingkat tertinggi berada, Sementara kami menghadap ke barat, tempat Ka’bah berada.

Saat bermeditassi, ada beberapa keanehan terjadi, salah satunya adalah keanehan alam. Kami yang bermeditasi di alam terbuka dan langsung beratapkan langit, seharusnya merasakan dingin yang menusuk-nusuk. Apalagi kalau dilihat dari letak pura yang berada di bawah kaki Gunung Salak. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tubuh kami malah terasa hangat.

Setelah sekitar dua jam lebih bermeditasi, kami pun turun ke pelataran sekitar pukul empat dini hari.

Karena matahari mulai siap bertugas, kami pun harus segera berpindah tempat. Namun sebelum bergegas menuju lokasi berikutnya, kami menyempatkan untuk berfoto terlebih dahulu, dan ini hasil fotonya:

Masih ada satu lagi yang belum kami lakukan, yaitu menggali informasi lebih banyak tentang pura. Kami pun menyempatkan diri bertanya pada salah seorang umat Hindu yang bertugas sebagai pecalang di pintu masuk—sekaligus berprofesi sebagai juru foto di pura. Sayang, tidak banyak yang kami dapatkan dari pecalang tersebut. Beruntung beberapa saat kemudian, datang jamaah lain setengah baya yang kelelahan karena harus berjalan menanjak dari tempat parkir. Jadi sebelum masuk ke pura, ia menyempatkan diri duduk sejenak menghela nafas bersama istrinya.

Orang itulah yang memberi kami banyak informasi. Ia berasal dari warna/kasta Brahmana yang dianggap sebagai warna tertinggi dalam agama Hindu. Dari orang tersebut kami mengetahui tangga tingkatan suci dalam Hindu, yaitu umat, pecalang, pamangku, dan guru pamangku (sulinggih).

Selain itu, di dalam Hindu juga ada catur warna yang dianalogikan sebagai tubuh. Dibagian kepala adalah brahmana. Biasanya menjadi pemikir atau perenung (filosof). Lalu dibagian pundak adalah kesatria. Biasanya menjadi penegak hukum atau penjaga. Kemudian di perut ada wesya, yang selalu mengurusi masalah ekonomi dan lain-lain. Bagian terakhir adalah sudra dibagian kaki, yang bertugas sebagai penopang yang atas supaya tidak goyah.

Setelah sekian menit berbincang, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju situs Megalitik Cibalay, Tenjolaya. Ini adalah situs yang menjelaskan siapa sebenarnya leluhur kita dan seberapa hebat dulu bangsa Nusantara. Situs ini umurnya hampir sama dengan situs yang ada di Gunung Padang. Sekitar 3000-25.000 tahun. Ketika tiba di lokasi, kami langsung disambut Kang Deni, penjaga situs tersebut.

Ketika kami tepat sampai situs dan melihat bagaimana keadaannya, tiba-tiba ada tanda yang  datang tanpa diminta. Melihat situs yang bertingkat-tingkat (berundak), aku menyadari ini pasti memiliki maksud, tidak mungkin ia dibangun begitu saja tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

Tanda yang lain adalah, “Tuhan bersama orang-orang yang lapar.” Itu kami buktikan ketika telah berada jenak berada di Tenjolaya. Kami yang semuanya pria ini tidak terlalu pandai memasak. Hasilnya, kami memasak seperti bocah. Takaran nasi yang kurang dan telur yang setengah matang. Namun karena lapar yang melanda, semua yang telah kami masak a la kadarnya itu, ludes, dan semoga berkah. Setelah tragedi menyakitkan ini, istri kang Deni tampil menyelamatkan nasib kami yang terluntalunta. Tuhan telah mengirim perempuan baik hati itu untuk kami. Alhamdulillah, urusan perut kami tunai dengan mudah.

Ada yang terlewat. Selama mengikuti Avatar Project, ponsel kami dipegang oleh Mpu. Agar kami tidak terhanyut dalam buaian sabak (gadget) yang kian membuat masyarakat seperti robot.

Di Tenjolaya, kami juga belajar berterimakasih kepada bulan dan bintang yang tiada lelah menghiasi setiap malam dengan cara tidak memakai listrik.

Selepas adzan Magrib, kami mengaji, dan diskusi berbagai macam hal, sambil menunggu dua sahabat yang sedang menyusul. Hingga waktu menunjukan dua per tiga malam, dalam kondisi kabut yang menyelimuti punggung Gunung Salak yang dingin, kami masuk ke kawasan situs guna berdiskusi dengan leluhur. Lagilagi  dengan bermeditasi. Kami duduk meditasi hingga salah satu sahabat menemui “kematiannya” sendiri. Ia menangis sesunggukan bagaikan bayi yang ditinggal sang ibu. Akhirnya Mpu pun menghentikan meditasi dan kami diminta saling maaf memaafkan. Persis seperti hari Lebaran.

Setelah saling meminta maaf, kami pun berdiskusi apa yang kami dapatkan saat bermeditasi. Karena setiap kami pasti mendapatkan hal berbeda dengan yang lain. Mpu pun menjelaskan apa maksudnya dari apa yang kami dapatkan satu per satu, karena semua yang kami dapatkan itu adalah simbol, bukan isi yang sesungguhnya.

Sebelum matahari muncul di ufuk timur, kami sempatkan waktu untuk shalat  dan menangisi dosa-dosa yang telah kami buat selama ini, hingga membuat hati dan akal ini gelap dan cahaya tuhan tidak sampai kepada kami. Walaupun begitu kami tetap merasa beruntung bisa menangisi dosa-dosa dan ada yang menuntun dalam memaknai hidup. Karena milyaran manusia di luar sana banyak yang salah dalam memaknai hidup, bahkan ada yang menapakinya tanpa makna.

Saat sinar matahari menyingsing kami sudah bergegas menuju ke Situs Jami’ Piciing. Jarak situs ini dengan Tenjolaya sekitar seratus meter lebih sembilan puluh sembilan. Di sana, kami melakukan senam matahari, pukulan “terimakasih” dan pelatihan fisik lainnya untuk membantu kami belajar. Karena dalam belajar, kami membutuhkan tubuh yang sehat. Seperti kata pepatah zaman Sekolah Dasar yang sulit kuingat, “Permensana kemenporapundisano.”

Mungkin ada yang bertanya apakah saat meditasi tidak ada godaannya dari mahluk halus?

Setiap godaan itu pasti ada, sedari yang halus-halus seperti yang ada di mall sampai yang colek-colek seperti kalau kita lewat Jalan Mangga Besar saat malam hari. Namun itu semua dapat kami atasi setelah mendapatkan jimat dari Mpu yang diwariskan oleh Eyang Cokroaminoto:

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid.”

Wassalamu’alaikum…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: