Gunakanlah Rokok Secara Bijak

Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (variasi bergantung kepada negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicincang. Rokok dibakar pada salah satu hujungnya dan dibiarkan membara supaya asapnya dapat disedut melalui mulut pada hujung yang lain

Sejarah rokok terjadi ratusan tahun yang lalu ditanah arab pada zaman kekaisaran persia, kenapa ditanah arab ? karena pada ratusan tahun yang lalu pada zaman keemasan di Baghdad tempat ilmu pengetahuan berkembang besar, dimana orang eropa masih dekil dan jorok-jorok. Tanah Baghdad sudah maju melebihi ekspetasi. Pada zaman itulah asal muasal rokok bermula. Rokok pada zaman itu adalah shisa. Para sufi yang memiliki pola tidur yang sangat sedikit itu menggunakan kopi dan shisha disela-sela diskusi dan merenung mereka. Kopi dan shisha digunakan untuk pemecahan masalah mereka atas rasa ngantuk, sekitar 500 tahun yang lalu, itu mengalami lonjakan popularitas di antara kelas atas dan intelektual dan dengan demikian mengubah desainnya. Hookah atau shisha berkembang dalam ukuran dan kompleksitas dan menjadi mirip dengan desain seperti sekarang ini. Kuningan dan kaca yang ditambahkan ke desain dan sedikit kayu yang digunakan. Lukisan-lukisan yang rumit dan mosaik ditambahkan untuk keindahan dan keanggunan. Hookah atau shisha bermigrasi ke daerah Selatan Arab dari Turki Lebanon dan Syria di mana disebut argile. Kemudian menyebar ke Mesir dan Maroko, dimana ia dikenal sebagai shisha.

Shisha pun sempat menyebar ke pedalaman suku Indian dan mendapatkan penyusutan bentuk. Shisha yang menggunakan kaca, kayu, dan lukisan-lukisan yang rumit berubah menjadi pipa panjang yang diujungnya terdapat lubang besar untuk tempat pembakaran. Dahulu bahan utama yang digunakan bukan seperti sekarang ini, yang digunakan adalah Tombeik. Tombeik adalah tembakau hitam yang tumbuh Iran. Tombeik dibilas dan ditaruh dalam tungku di mana batu bara ditempatkan secara langsung ke tombeik basah, yang memberikan rasa yang kuat. Lalu di suku Indian itu menggunakan tombeik kering.

Di indian kegiatan yang kita sebut merokok ini awalnya dilakukan  pada saat berkumpunya beberapa suku untuk mempererat hubungan antar suku yang berbeda. Namun selain sebagai penguat hubungan antar suku, banyak juga yang menggunakan tembakau atau tombeik sebagai media pengobatan. Dan suku Indian menggunakannya sebagai media ritual terhadap dewa-dewa mereka. Lalu tidak lama dari itu sekitar abad ke-16 Colombus yang mengaku menemukan amerika yang sebetulnya nyasar itu datang. sebagian dari mereka mencoba untuk menghisap tembakau. Dan akhirnya tertarik untuk membawa budaya menghisap tembaku ini ke benua asal mereka, yaitu Benua Eropa. Setelah budaya ini dibawa ke Eropa, ada seorang diplomat Prancis yang tertarik untuk mempopulerkannya ke seluruh Eropa. Dia lah Jean Nicot, yang kemudian namanya digunakan sebagai istilah Nikotin. Kebiasaan merokok pun muncul di kalangan bangsawan Eropa. Namun tidak seperti suku indian, yang menggunakannya untuk upacara ritual, para bangsawan Eropa menggunakannya untuk kesenangan belaka. Kepopulerannya yang semakin meningkat di Eropa membuat John Rolfe tertarik untuk membudidayakan tembakau dengan lebih serius. John Rolfe adalah orang pertama yang berhasil menanam tembakau dalam skala besar, yang kemudian diikuti oleh perdagangan dan pengiriman tembakau dari AS ke Eropa. Secara ilmiah, buku petunjuk bertanam tembakau pertama kali diterbitkan di Inggris pada tahun 1855, padahal waktu zaman Baghdad berjaya tembakau itu sudah ada.

Lalu dari segi bentuk terus-menerus mengalami penyusutan hingga berbentuk seperti sekarang ini yang dari isi dan kandungan yang terdapat pada rokok yang berubah jauh dari zaman shisha. Rokok yang sekarang sudah dimanipulasi sedemikian rupa oleh sekelompok orang (illuminati) untuk melancarkan kepentingannya

Rokok dulu diindonesia kegunaannya masih sama dengan shisha pada untuk menahan ngantuk yang ditemani oleh kopi. Itulah mengapa kopi dan rokok adalah teman sejati yang susah sekali dipisahkan.  Sejarah rokok di Indonesia terjadi di Kudus Menurut kisah yang hidup dikalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok.Dari kegiatan melinting rokok itulah kearifan lokal terjadi. Dimana kita bersosialisasi membicarakan perjuangan bangsa kita, hukum adat istiadat, dan masih banyak lagi sambil melinting rokok.

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkeh. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan “rokok obat” ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi “keretek”, maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan “rokok kretek”. Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon Djamari meninggal pada 1890. Identitas dan asal-usulnya hingga kini masih samar.

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek “Tjap Bal Tiga”. Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.

Menurut beberapa babad legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok klobot (rokok kretek dengan bungkus daun jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya. Dari kegiatan melinting rokok itulah kearifan lokal terjadi. Dimana kita bersosialisasi membicarakan perjuangan bangsa kita, hukum adat istiadat, dan masih banyak lagi sambil melinting rokok.

“Rokok adalah untuk orang-orang gelisah, orang-orang yang kompetitif, orang gusar […] Ketika Anda merokok narghile, Anda punya waktu untuk berpikir. Ini mengajarkan Anda kesabaran dan toleransi, dan memberi Anda penghargaan perusahaan yang baik. Perokok Narghile memiliki pendekatan hidup yang lebih seimbang daripada perokok biasa.” Ismet Ertep

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu didalam benteng yang tinggi lagi kokoh” Allah SWT jadi penyebab kematian bukanlah rokok, memang waktunya seseorang meninggal.

Pesan : Gunakanlah rokok sebagaimana semestinya, karena balik lagi itu semua bukanlah kesalahan rokok tapi karena kitalah yang tidak bijak dalam menggunakannya #MariBijakMerokok

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: